Nia Dirgha, penyanyi dari Grup Musik Kecimol Irama yang sangat terkenal , tidak hanya di Lombok tapi di berbagai penjuru tanah air melalui konten di media sosial yang dibuat oleh banyak kreator konten. (IG @nia_dirgha)
Nia Dirgha, penyanyi dari Grup Musik Kecimol Irama yang sangat terkenal , tidak hanya di Lombok tapi di berbagai penjuru tanah air melalui konten di media sosial yang dibuat oleh banyak kreator konten. (IG @nia_dirgha)

LOMBOK INFO – Bermula dari tahun 1980-an pada beberapa desa di Kabupaten Lombok Timur, Kecimol adalah kelompok kesenian dengan menggunakan alat-alat musik tradisional yang sederhana seperti gendang rebane (gendang rebana) dan kulkul (kentongan bambu).

Musik Kecimol ini biasa digunakan untuk menghibur masyarakat yang sedang bekerja mengolah sawah atau sedang bergotong royong di mesjid.

Seiring perjalanan waktu, Musik Kecimol semakin berkembang, dan alat musik yang digunakan pun semakin bervariasi, bahkan dipadukan dengan penggunaan alat musik modern.

Dewasa ini, Kecimol dimainkan dengan alat musik yang hampir sepenuhnya terbilang modern, seperti gitar elektrik, keyboard, dan juga drum elektrik. Ditambah beberapa pemain yang berbaris menenteng snare drum, Kecimol lebih menyerupai drum band sekaligus orkes dangdut.

Banyak dimainkan sebagai pengiring arak-arakan pada prosesi Nyongkolan, salah satu bagian dari upacara perkawinan adat Masyarakat Sasak Lombok, mulailah keberadaan Kecimol menjadi kontroversi.

Stigma pun dilekatkan karena citra negatif yang mengiringinya. Ada penari dengan goyangan erotis yang tidak sesuai dengan norma adat dan agama, ada anak-anak muda yang berjoget dalam kondisi mabuk, yang semuanya itu membuat kemacetan dan mengganggu pengguna jalan yang lain.

Dengan aneka alat musik yang modern, ditambah citra negatif yang terbentuk di atas, pengkategorian sekaligus penerimaan akan keberadaannya pun menjadi perdebatan.

Apakah termasuk kesenian modern atau kesenian tradisional, kemudian dengan citra negatif yang mengiringi apakah bisa dikatakan sebagai bagian dari budaya Masayarakat Suku Sasak Lombok yang religius?

Tanpa disadari, pada beberapa tahun belakangan telah terjadi perkembangan dan perubahan yang luar biasa pada kelompok musik yang sering disebut sebagai musik jalanan ini.

Dunia digital telah mempopulerkannya ke segala penjuru, tidak lagi terbatas di Lombok dan Nusa Tenggara Barat. Kita bisa saksikan konten musik ini di berbagai kanal media sosial memiliki peggemar dari berbagai daerah di tanah air, bahkan di beberapa negara tetangga.

Sementara para pemusiknya di sela-sela penampilannya mengiringi arak-arakan di jalanan, mereka juga diundang untuk tampil di panggung-panggung yang lebih bergengsi, seperti panggung konser di lapangan besar, di gedung-gedung pertemuan dan juga di hotel-hotel.

Penggemar mereka tidak lagi sebatas anak-anak muda di desa-desa yang tengah dalam pencarian jatidiri , tapi juga berbagai elemen masyarakat tanpa batas dan sekat lagi.

Kecimol… Riwayatmu Kini, Lombok Info
Arak-arakan pengantin yang sangat ramai, dengan penampilan Musik Kecimol yang mengiringinya. (Sumber foto: Akun Facebook Megantara)

Seiring dengan semakin meluasnya pangsa penggemar itu tumbuh pula kesadaran mereka untuk tampil lebih baik dan menghilangkan kesan-kesan negatif yang melekat selama ini.

Mereka pun berhimpun dan membentuk perkumpulan yang dinamai Asosiasi Kecimol Nusa Tenggara Barat (AK NTB) pada tahun 2022 lalu, dan pagelaran festival di Selong, Lombok Timur pada tanggal 25-26 Januari 2023 kemarin seolah menjadi milestone perubahan yang mereka umumkan pada khalayak.

Bupati Lombok Timur hadir sebagai bukti pengakuan pemerintah pada esksistensi mereka. Begitu juga dengan Ketua dan beberapa jajaran Pengurus Majelis Adat Sasak (MAS) yang hadir di situ menjadi pertanda bahwa musik ini sudah diterima sebagai bagian dari perkembangan budaya Masyarakat Lombok.

Kecimol… Riwayatmu Kini, Lombok Info
Penonton yang berjubel, telephon genggam milik para kreator konten yang sedang merekam penampilan salah satu Grup Musik Kecimol, dan sound system milik beberapa Grup Musik Kecimol yang berderet dalam gelaran Festival Kecimol baru-baru ini. (Foto: Bambang Parmadi)

Lantas dengan berbagai perubahan yang terjadi itu, di manakah posisi Kecimol dalam wacana kesenian dan kebudayaan? Ketua Pembina AK NTB yang juga mantan Ketua Majelis Adat Sasak, Lalu Bayu Windya menegaskan Kecimol adalah bagian dari perkembangan kebudayaan, yang bisa disebut sebagai budaya populer (pop culture).

“Bukan seni tradisi, tapi seni kreasi atau Pop Culture. Jadi Kecimol ini Seni Sasak Kreasi,” ujar Lalu Bayu Windya di atas panggung festival yang dihadiri ribuan masyarakat penggemar Kecimol itu.

Akan tetapi sebagai bagian dari budaya Masyarakat Sasak Lombok yang religius, Lalu Bayu menekankan adanya tiga hal yang harus dipegang oleh para pelaku hiburan rakyat ini.

Tidak boleh ada lagi jogetan erotis yang cenderung menjadi pornoaksi, tidak boleh ada minuman keras dan mabuk-mabukan, dan tidak boleh ada sentuhan yang mengarah pada pelecehan seksual ketika penonton memberikan tip (nyawer) kepada penyanyi atau penarinya.

Kalau dulu dalam perdebatan kontroversinya sebagian kalangan menyebut Kecimol ini sebagai bentuk perlawanan terhadap klaim budaya luhur, maka hari ini nampaknya perlawanan itu telah mencapai tujuannya.

Sementara pada sisi ekonomi, musik ini sedikit banyak juga telah membantu meningkatkan pendapatan masyarakat, khususnya para pelakunya.

Jadi jangan ragu lagi, bergembira dan berjogetlah bersama Musik Kecimol, musik kita semua.**

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here